Cerpen Remaja

Seperti Hujan yang Tak Pernah Reda

 
“Aku heran deh,” kataku sambil memasukkan buku ke tas. “Kamu selalu nulis tiap hujan.”
 
Alya mengangkat wajahnya. Rambut depannya sedikit basah karena tempias air.
“Biar ada yang ingat hari ini pernah ada.”
 
“Memangnya kalau nggak ditulis bakal hilang?”
 
“Iya.”

Jawabannya terlalu cepat. Lalu ia tersenyum kecil seperti orang yang baru sadar sudah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Itu kebiasaan Alya. Kadang ia bicara seperti seseorang yang sedang bersiap pergi jauh.

Di sekolah, Alya bukan tipe siswa yang mudah diingat. Nilainya biasa. Tidak ikut organisasi terkenal. Tidak punya lingkaran pertemanan besar. Tetapi entah kenapa, semua orang mengenalnya. Satpam sekolah hafal jam kedatangannya. Penjual kantin tahu ia selalu membeli teh hangat tanpa gula. Bahkan tukang fotokopi depan sekolah pernah bilang: “Adek yang pendiam itu sopan sekali.”

“Alya seperti hujan sore. Tidak ramai. Namun saat tidak ada, orang-orang merasa ada yang kurang.”

Aku mulai dekat dengannya sejak kelas sebelas, tepatnya saat guru fisika menyuruh kami menjadi pasangan praktikum. Ia buruk sekali dalam merangkai kabel. Benar-benar buruk. Tangannya selalu gemetar kalau panik.

 
“Ini kenapa nggak nyala?” bisiknya frustrasi.
 
“Itu karena kamu nyolokin kabel merah ke kipas angin.”

Alya menatap rangkaian listrik itu beberapa detik lalu tertawa sampai pundaknya bergetar kecil. Dan sejak hari itu, aku mulai menyukai tawanya. Bukan karena suaranya indah. Tetapi karena Alya termasuk orang yang jarang tertawa lepas. Jadi saat itu terjadi, rasanya seperti berhasil melihat sisi langit yang biasanya tertutup awan.

Ada banyak hal aneh tentang Alya yang baru kusadari belakangan. Ia tidak punya media sosial. Tidak pernah ikut foto kelompok terlalu lama. Dan setiap ada yang mencoba memotretnya sendiri, hasilnya selalu buram.

 
“HP kamu jelek,” katanya santai setiap kali aku protes.
 
Padahal kamera ponselku baik-baik saja. Suatu hari Reno bahkan bercanda, “Ly, jangan-jangan kamu vampir.”
 
Alya hanya tersenyum sambil minum teh hangatnya.
“Aku cuma nggak suka disimpan terlalu lama.”

Waktu itu kami tertawa. Sekarang, kalimat itu terasa menakutkan.

Menjelang kelulusan, sekolah semakin sibuk. Latihan perpisahan. Pengumpulan album kenangan. Tanda tangan seragam. Semua orang sibuk mempersiapkan akhir. Namun Alya justru terlihat semakin sering melamun. Kadang ia memandangi lapangan kosong terlalu lama. Kadang diam menatap hujan dari koridor lantai dua.

Dan anehnya, guru-guru jarang benar-benar menyadari keberadaannya. Suatu pagi Bu Muliana memanggil daftar hadir. “Reno?” “Hadir.” “Citra?” “Hadir.” “Alya?” Kelas hening beberapa detik. Bu Muliana langsung melanjutkan nama berikutnya seolah tidak ada yang aneh. Padahal Alya duduk tepat di dekat jendela sambil menatap buku tulisnya.

 

Tiga hari sebelum perpisahan sekolah, hujan turun sangat deras. Aku masih ingat hari itu karena Alya datang lebih awal dari biasanya. Ia berdiri sendirian di depan kelas sambil memegang payung biru tua.

 
“Aku titip sesuatu ya nanti,” katanya.
 
“Apa?”
 
“Nanti juga tahu. Tapi jangan dibuka cepat-cepat.”
 
“Rahasia?”
 
“Setengah rahasia.”

Aku mendecak kecil. “Jawaban kamu selalu aneh.” Ia tersenyum tipis. “Biar nggak gampang dilupakan.” Kalimat itu lagi. Dilupakan. Seolah itu adalah sesuatu yang sangat ditakutinya.

Malamnya, berita kecelakaan muncul di grup sekolah. Sebuah motor tertabrak truk di jalan lintas kecamatan saat hujan deras. Anak-anak mulai mengirim pesan panik. Nama yang disebut membuat jantungku berhenti berdetak beberapa detik. ALYA. Aku membaca pesan itu berulang kali. Lalu lagi. Dan lagi. Sampai huruf-hurufnya terasa asing.


Setelah pemakaman, bangku dekat jendela itu kosong. Tetap kosong. Tidak ada yang memindahkannya. Tidak ada yang menduduki. Namun anehnya, sekolah berjalan normal terlalu cepat. Anak-anak tetap bercanda. Tetap latihan perpisahan. Tetap sibuk menentukan kampus. Seolah kehilangan hanya berlangsung sebentar sebelum hidup kembali berjalan seperti biasa. Mungkin memang begitu cara dunia bekerja. Ia tidak berhenti meski seseorang menghilang.

Dua hari sebelum malam perpisahan, aku masuk ke gudang aula untuk mencari kabel pengeras suara. Gudang itu lembap dan berbau kayu basah. Di sudut lemari tua, aku menemukan sebuah kotak sepatu dengan tulisan kecil di atasnya:

Untuk Raka.

Tulisan tangan Alya. Tanganku langsung dingin. Di dalamnya ada: buku kecil bersampul biru, foto study tour, dan amplop putih yang sedikit terkena air.

Raka,

Aku pernah baca kalau manusia meninggal dua kali. Pertama saat napasnya berhenti. Kedua saat namanya tidak lagi disebut siapa pun.
Menyedihkan ya? Makanya aku takut dilupakan.

Aku takut suatu hari semua percakapan kecil kita hilang begitu saja. Tentang hujan. Tentang praktikum fisika gagal. Tentang teh hangat kantin.

Aku suka kamu. Sudah lama. Tapi aku selalu merasa waktuku sedikit.

Jadi kalau suatu hari aku benar-benar pergi, jangan sedih terlalu lama. Karena bagiku, dicintai diam-diam olehmu saja ternyata sudah cukup membuat seseorang merasa hidup.

— Alya

Tanganku gemetar saat membaca bagian terakhir. Bukan karena terkejut ia menyukaiku. Tetapi karena untuk pertama kalinya aku sadar… sejak awal Alya selalu bicara tentang pergi. Dan aku tidak pernah benar-benar mendengarkan.

Malam perpisahan sekolah dipenuhi suara tawa dan tangisan. Anak-anak saling mencoret seragam. Lampu aula berwarna-warni. Kembang api sesekali meledak di langit sekolah. Aku keluar dari keramaian dan berjalan menuju kelas XII IPA 1. Gelap. Sepi. Hanya suara hujan kecil di luar jendela.

Aku duduk di bangkuku sambil membuka buku biru milik Alya. Isinya bukan diary. Hanya potongan-potongan hari biasa.
“Hari ini Raka tidur saat pelajaran sejarah.”
“Raka pura-pura nggak lihat aku nangis.”
“Hujan hari ini bau tanahnya enak.”
“Aku senang masih ada.”

Kalimat terakhir membuat dadaku sesak. Aku membalik halaman berikutnya. Kosong. Lembar terakhir hanya berisi satu tulisan kecil:

“Kalau suatu hari kamu sadar aku tidak pernah benar-benar ada, jangan takut.
Beberapa orang memang datang hanya untuk meninggalkan kenangan.”

Napasku tercekat. Aku langsung berdiri. Jantungku berdetak terlalu cepat. Tidak pernah benar-benar ada? Apa maksudnya?

Aku berlari keluar kelas menuju aula utama. Di depan aula, terpajang layar besar berisi slideshow kenangan angkatan kami. Foto-foto berganti perlahan. Study tour. Class meeting. Lomba sekolah. Aku mencari wajah Alya. Satu demi satu foto muncul. Namun… Alya tidak pernah ada di dalam satu pun foto. Padahal aku ingat ia ikut semuanya.

 
“Ren… foto Alya mana?” suaraku serak.
 
Reno menatapku bingung.
“Alya siapa?”
 
Aku tertawa kecil. Refleks. Karena pertanyaan itu terasa tidak masuk akal. “Jangan becanda.”
 
Namun Reno tetap menatapku aneh.
“Ka… dari dulu kamu memang sering duduk sendiri dekat jendela.”

Dunia mendadak terasa sunyi. Aku mundur pelan. “Jangan aneh-aneh.” Reno menelan ludah. “Raka… Bangku dekat jendela itu kosong sejak awal kelas sebelas.”

Aku langsung berlari keluar aula. Hujan turun semakin deras. Langkahku berhenti di depan papan alumni lama dekat ruang tata usaha. Di sana tergantung foto korban kecelakaan bus study tour sekolah. Tahun 2019.

Mataku menyapu deretan wajah itu. Lalu berhenti pada satu foto.
Seorang gadis berambut sebahu dengan senyum tipis yang sangat kukenal.
ALYA PRAMESTI.
Meninggal dunia pada usia 16 tahun.
Tujuh tahun lalu.
Sebelum aku masuk sekolah itu.

Tanganku melemas. Hujan membasahi foto itu perlahan. Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari. Setiap kali hujan turun… Alya selalu berkata: “Biar ada yang ingat hari ini pernah ada.”

Karena mungkin… selama ini ia hanya takut dilupakan untuk kedua kalinya.

★ karena kenangan tak akan pernah mati jika kita terus menyebut namanya ★

Cerpen karya Admin_terinspirasi dari rintik hujan dan sosok yang tak ingin dilupakan.
Share: