Di Kursi yang Terlalu Lama Diduduki

Di Kursi yang Terlalu Lama Diduduki

Malas
tidak selalu datang
dengan wajah lelah
atau tubuh yang rebah di kasur
sepanjang hari.

Kadang ia hadir
seperti teman paling ramah
menepuk pundak pelan,
berbisik lirih
“Besok saja.”

Dan manusia,
yang terlalu sering percaya
pada kata nanti,
perlahan kehilangan
hari-harinya sendiri.

Mula-mula
yang tertunda hanya satu langkah kecil
satu halaman buku,
satu doa yang dipercepat,
satu mimpi yang sengaja ditidurkan.

Namun waktu
adalah sungai yang tak pernah menoleh ke belakang.
Ia tetap berjalan
meski seseorang memilih diam.

Lalu tahun-tahun tumbuh
seperti dinding tanpa pintu.
Kesempatan lewat
tanpa suara.
Usia bertambah,
tetapi keberanian mengecil
sedikit demi sedikit.

Malas tidak merobohkan hidup
dalam satu malam.
Ia bekerja pelan,
seperti karat
yang memakan besi dari dalam.

Seseorang masih bisa tertawa,
masih bisa berkata
bahwa semuanya baik-baik saja,
padahal di dalam dadanya
ada masa depan
yang mulai kehilangan bentuk.

Betapa banyak cita-cita
mati bukan karena kegagalan,
melainkan karena terlalu lama
ditunda.

Betapa banyak manusia
ingin memetik buah keberhasilan
sementara tangannya sendiri
tak pernah benar-benar menanam.

Dan ketika teman-teman seusia
telah berlari jauh
mengejar matahari,
ia masih duduk
di kursi yang sama
memeluk penyesalan
yang dulu dianggap
sekadar kemalasan kecil.

Padahal hidup
tidak pernah menunggu
orang yang sibuk menawar waktu.

Sebab masa depan
dibangun oleh langkah-langkah yang sering terasa berat,
oleh pagi yang dipaksa bangun,
oleh disiplin
yang kadang lebih menyakitkan
daripada kegagalan itu sendiri.

Malas memang nyaman.
Sangat nyaman.
Sampai seseorang sadar
bahwa kenyamanan yang berlebihan
dapat berubah
menjadi penjara paling sunyi.

Dan pada akhirnya,
yang paling menyedihkan
bukanlah hidup yang sulit,
melainkan hidup
yang sebenarnya bisa indah
andaikan dulu
ia berani bergerak.

Karya Admin

Share: