Sekolah yang Menyimpan Hujan
 
Sekolah yang Menyimpan Hujan
 

Puisi tentang pendidikan, mimpi, dan manusia yang tumbuh di antara angka-angka.

Di sebuah pagi
yang bau tinta spidolnya belum hilang,
anak-anak datang
membawa langit kecil di matanya.

Mereka duduk rapi
di bangku-bangku yang mulai menua,
sementara waktu
pelan-pelan menetes dari ujung jarum jam
seperti hujan
yang lupa cara berhenti.

Di papan tulis,
angka-angka tumbuh seperti hutan.
Rumus-rumus menjelma lorong panjang
yang kadang membuat manusia kecil
tersesat di dalam kepalanya sendiri.

Ada yang menyalin kata demi kata
tanpa pernah benar-benar mengenalnya.
Ada yang menghafal jawaban
seperti burung dalam sangkar
menghafal arah langit
yang tak pernah ia sentuh.

Dan di sudut ruang itu,
seorang anak diam-diam menyimpan tanya:

mengapa nilai
lebih sering dipeluk
daripada rasa ingin tahu?
Mengapa kesalahan
terdengar begitu menakutkan,
seolah gagal adalah noda
yang tak pantas dimiliki manusia?

Padahal ilmu
tidak selalu lahir dari kepastian.

Ia kadang tumbuh
di antara gelisah yang panjang,
di sela malam
yang dipenuhi halaman-halaman terbuka,
dan pada keberanian kecil
untuk berkata:

“Aku belum mengerti.”
Guru-guru berdiri
di depan kelas
seperti penjaga pelita
yang mencoba melawan angin.

Sebagian lelahnya
tak pernah benar-benar sempat diterjemahkan.
Namun mereka tetap datang
membawa suara,
membawa harapan,
meski dunia semakin gaduh
oleh mesin dan kecepatan.

Kini layar-layar bercahaya
mulai menggantikan banyak percakapan.
Jawaban datang
lebih cepat daripada pemahaman.

Manusia tak lagi sabar
berjalan pelan menuju makna.

Segalanya ingin segera selesai.
Segalanya ingin segera tahu.

Padahal berpikir
adalah perjalanan sunyi
yang tak selalu menawarkan jalan pendek.

Dan sekolah,
barangkali bukan tempat
untuk menjadi manusia paling sempurna,

melainkan tempat
di mana seseorang belajar
bagaimana caranya tetap menjadi manusia
di tengah dunia
yang perlahan berubah menjadi mesin.
#PuisiPendidikan #Literasi #PuisiModern #RefleksiSekolah
Share: