PERAN DAN TANTANGAN  GURU DI ERA KECERDASAN  BUATAN/ ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)

 

 
 
Pendidikan & Teknologi

PERAN DAN TANTANGAN GURU DI ERA KECERDASAN BUATAN/ ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)

 

Oleh : Sri Rahayu

Momen Hari pendidikan nasional setiap 2 Mei selalu memberi pengharapan akan kemajuan dunia pendidikan dan memberi semangat untuk terus memberi yang terbaik kepada generasi bangsa. Hari pendidikan tidak terlepas dari seorang tokoh nasional Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswanya. Konsep Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922 berfokus pada pendidikan humanis-popilis untuk rakyat pribumi, melawan sistem Kolonial melalui "Sistem Among" yang berjiwa kekeluargaan, merdeka, dan berdasarkan kodrat alam. Pendidikan ini menekankan pengembangan kreativitas, budi pekerti, dan cinta budaya bangsa (Tri-N: Niteni, Nirokake, Nambahke).

Dalam era digital saat ini, guru diharapkan mampu menguasai teknologi yang semakin pesat. Tantangan guru bukan hanya semata-mata memberantas buta huruf alphabet tetapi juga memberantas buta teknologi. Hal ini sesuai dengan semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun semangat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).

Kecerdasan buatan/ Artificial Intelligence (AI) memiliki dampak yang sangat besar terhadap dunia pendidikan, baik dari segi guru maupun siswa. Guru yang tidak memiliki keterampilan teknologi akan kewalahan dalam mengikuti perkembangan AI yang dinamis, sedangkan bagi guru yang memiliki keterampilan teknologi akan terjebak dalam ketergantungan terhadap AI pada saat menyusun modul ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan Instrumen Penilaian. Hal ini mengakibatkan penurunan kreativitas guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Sedangkan bagi siswa kehadiran AI mengakibatkan penurunan kepatuhan, rasa hormat dan keterikatan emosional terhadap guru di kelas, karena mereka menganggap AI lebih pintar. Hubungan personal antara guru dan siswa yang penting bagi perkembangan karakter moral akan tergantikan oleh interaksi layar gadget.

Harapannya, AI digunakan oleh guru maupun siswa sebagai pembantu bukan pengambil keputusan akhir. Siswa harus melatih keterampilan yang tidak dimiliki AI seperti kreativitas otentik, komunikasi interpersonal, kepemimpinan, dan kecerdasan emosional dalam kerja tim. Guru harus berperan sebagai mentor empati yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh algoritma AI. Guru wajib belajar cara memberi perintah yang tepat pada AI, mengkurasi materi pelajaran, mendeteksi miskonsepsi, dan merancang soal berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills). Guru tidak boleh lagi menilai hasil akhir berupa makalah tertulis yang rawan dimanipulasi AI. Penilaian harus dialihkan ke presentasi lisan, debat, wawancara langsung, proyek kerja kelompok dan portofolio proses.

— Guru Hebat, Generasi Kuat —
#partisipasisemesta #pendidikanbermutuuntuksemua #lombaartikelhardiknas2026 #murid #GTK #masyarakat #wartawan
Share: